Iklan Header


Bagaimana Gojek, Grab & Uber Mendapatkan Keuntungan?

Jasa transportasi online seperti Gojek, Uber, Gojek dan sejenisnya merupakan model transportasi yang saat ini tengah digandrungi masyarakat Indonesia. Selain karena mudah, transportasi online juga menawarkan harga miring bagi pelanggannya.

Karena banyaknya minat masyarakat inilah, para driver ojek online pun akhirnya semakin banyak. Mereka mencari penghasilan setiap harinya untuk memenehui kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan yang cukup lumayan.

Bagaimana Gojek, Grab & Uber Mendapatkan Keuntungan
original image via iPrice
Berbicara mengenai itu, kita terkadang memikirkan darimana perusahaan transportasi online tersebut bisa mendapatkan keuntungan. Padahal kalau dilihat dengan seksama mereka memiliki banyak karyawan dan harga dari layanannya termasuk murah. Cukup susah memang kalau dipikir dengan nalar.


Rasa-rasanya, dengan harga yang semurah itu, mereka tidak akan bisa mengimbangi biaya operasional yang begitu besarnya. Anehnya lagi, model bisnis seperti ini tetap laris manis diserbu para pendaftar kerja. Atau jangan-jangan, semakin banyak driver yang bekerja membuat penghasilan Gojek, Uber, Grab juga semakin bertambah? Apakah benar demikian? Mari kita bahas…

Keuntungan yang diperoleh Uber, Gojek dan Grab

Menurut dari berbagai sumber, inilah beberapa analisis mengenai keuntungan yang didapat Gojek, Uber dan Grab:


1. Penghasilan dari Pelayanan Jasa

Misalkan ada perusahaan ojek online yang mendapat Rp 10.000 setiap ordernya dimana tiap harinya ada 5 orderan. Dengan total rata-rata driver yang beroperasi 200.000 orang sehari dengan sistem bagi hasil 80% untuk driver dan 20% untuk perusahaan serta prosentase bonus yang diberikan 20% dari jumlah driver sekitar Rp 100.000, maka jumlah penghasilan perusahaan ojek online tersebut bisa kita rinci sebagai berikut:
Pendapatan kotor operasional dalam sehari : 10.000 x 5 x 200.000 x 20% = 2 Milyar
Biaya bonus dan operasional lainnya dalam sehari : 20% x 200.000 x 100.000 = 4 Milyar
Maka, setiap harinya perusahaan bisa merugi hingga 2 Milyar karena berbagai bonus dan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Ini berarti perusahaan bisa menanggung kerugian hingga 60 Milyar setiap bulannya. Belum lagi pengeluaran yang sifatnya non-operasional seperti gaji karyawan, biaya promosi, biaya server, biaya listrik, biaya gedung dan masih banyak lagi.

Seandainya perusahaan ojek online tersebut terus menawarkan ‘BONUS’ setiap waktunya, maka mereka akan mengalami kerugian yang terus berkelanjutan. Sebaliknya, kalau mereka tidak menawarkan ‘BONUS’ dan biaya operasional secara insentif, maka biaya perusahaan tidak terlalu besar. 

Tetapi tetap saja, para driver ojek online mungkin tidak bisa menikmati penghasilan tambahan dari perusahaan. Secara tidak langsung, ini akan membuat ‘DILEMA’ tersendiri antara perusahaan ojek online dan mitra usahanya. Maka dari itu, penghasilan dari jasa layanan sepertinya belum menutupi biaya insentif yang harus dikeluarkan.

Jadi, sumber pendapatan Gojek, Grab dan Uber bukan hanya dari jasa yang ditawarkan saja. Saya juga dulu berpikiran bahwa penghasilan utamanya didapat dari ‘BISNIS UTAMA’ mereka, namun kalau dipikir secara logika, apakah mungkin?

Tukang ojek pangkalan juga menawarkan harga yang lebih mahal juga belum kaya-kaya, bagaimana dengan harga yang lebih murah? Sepertinya akan sangat susah.

Makanya, mungkin saja perusahaan ojek online mengandalkan ‘celah’ atau ‘alternatif’ untuk menutupi kerugian tersebut. Salah satunya dengan menerapkan metode-metode yang tidak terlalu dimengerti oleh orang awam.

Metode-metode alternatif ini akan kami bahas pada poin berikutnya, mari simak dengan seksama!

2. Pendapatan dari Investor

Bagaimana Gojek, Grab & Uber Mendapatkan Keuntungan
Investor Astra International - foto via katadata.co.id
Sebenarnya, investor ini bisa menjadi ujung tombak perusahaan Gojek, Uber dan Grab. Selain sebagai Sumber Dana, investor juga secara tidak langsung akan memberikan penghasilan untuk perusahaan ojek online. Dengan dana tersebut, setidaknya perusahaan transportasi online bisa menutup biaya operasional di awal perintisannya.

Sumber pendapatan dari investor ini memang sangat penting untuk membangun infrastruktur berbagai layanan dan ekosistem yang akan dibangun. Dan mungkin yang paling besar biaya operasionalnya adalah iklan, karena semakin banyak dana yang dikucurkan untuk beriklan maka semakin banyak orang yang familiar dengan layanan tersebut.

Hal ini tentu sama dengan Facebook, Instagram, Google yang memberikan berbagai layanan gratis untuk penggunanya. Di sisi lain, mereka mendapatkan income terbesarnya dari iklan.

Metode berikutnya mungkin dengan memainkan dana tersebut untuk investasi di lini bisnis lainnya. Misalnya suatu perusahaan ojek online mendapat investor dengan dana kucuran sebesar 2 Milyar. Kemudian perusahaan tersebut diberikan prospek laba sekitar 20% dalam setahun dengan asumsi 2 Milyar tersebut akan digunakan sebagai berikut:
  • 2 Milyar Total Investasi
  • 2 Milyar x 20% = 400 juta untuk laba perusahaan
  • 2 Milyar x 15% = 300 juta untuk biaya operasional
  • 2 Milyar x 65% = 1,3 Milyar untuk modal promosi atau iklan
Karena banyak sekali pengguna, di tahun kedua pihaknya akan mencari investor lagi yang berani mengucurkan dana 3 Milyar atau lebih besar lagi dengan prospek 20%. Dari uang 3 Milyar tadi, kita bisa asumsikan seperti ini:

3 Milyar Total Investasi

(Hutang tahun sebelumnya kurang 1,6 Milyar. Maka dari itu, di tahun kedua perusahaan transportasi online tersebut akan memberikan 1,6 Milyar untuk diberikan pada investor pertama agar janji bisa terpenuhi. Dengan begitu, kredibilitas perusahaan tetap terjaga dan baik-baik saja.)

Sisa: 1,4 Milyar
  • 1,4 Milyar x 20% = 280 juta untuk laba perusahaan
  • 1,4 Milyar x 15% = 210 juta untuk biaya operasional
  • 1,4 Milyar x 65% = 910 juta untuk modal promosi atau iklan
Nah, begitu seterusnya hingga hasilnya sudah cukup stabil dan aman untuk aset jangka panjang. Kalau perusahaan tersebut sudah besar, maka bisa dimasukkan ke IPO atau ke bursa saham. Dengan perdagangan saham inilah, perusahaan akan mendapat keuntungan yang jauh lebih besar. Kucuran dana yang ditawarkan juga lebih menggiurkan daripada biasanya.

3. Penghasilan dari Media Periklanan

Selain digunakan untuk jasa transportasi, mereka juga bisa memanfaatkan model bisnisnya untuk meraup keuntungan dari media periklanan. Memang saat ini Gojek, Uber dan Grab belum terlalu fokus untuk terjun ke media periklanan, namun suatu saat bisa saja mereka melakukannya.

Semakin banyak orang yang menggunakan aplikasi mereka, maka semakin banyak pula potensi penghasilan yang akan didapatkan dari media. Berbagai perusahaan pun akan kepincut untuk beriklan di Gojek, Uber dan Grab karena traffic yang ditawarkan. Layaknya televisi, semua siaran atau tayangan disajikan secara gratis untuk masyarakat.

Nah, dengan jumlah penonton yang banyak maka akan menaikkan rating siaran stasiun televisi tersebut. Karena banyak yang menonton, maka akan banyak juga perusahaan yang memasang iklan. Jadi jangan heran apabila sewaktu nonton sinetron, Anda sering mengalami jeda iklan untuk beberapa saat.

Iklan yang ditawarkan Gojek dan transportasi online lainnya mungkin saja berbeda. Mereka tak hanya mengandalkan traffic dan rating, melainkan ‘DATA’. Apa itu data yang dimaksud? Bisa saja berupa data asal, tujuan, rute, biaya, demografi pelanggan dan data-data lainnya. Dengan data ini, client bisa memasang iklan dengan lebih tertarget dan bisa lebih menguntungkan dibanding metode beriklan lainnya.

Selain itu, data penting lainnya juga bisa diperoleh dari pembelian jasa Go-food dimana pengusaha makanan bisa mengetahui selera masyarakat melalui pihak Gojek.  Jasa Go-Clean, Gojek bisa mengetahui barang apa saja yang dibutuhkan dan belum banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Jasa Go-Tix, bisa mengetahui demografi penonton dan data-data lainnya.

Dari sini, Gojek bisa mengumpulkan ‘DATABASE’ yang sifatnya sangat berguna bagi pelaku usaha. Semakin banyak perusahaan mengenali kebutuhan pasar, maka produk atau jasanya akan lebih mudah diminati masyarakat. Ini semua juga bisa saja berlaku pada jasa transportasi online lainnya seperti Grab, Uber dan sejenisnya.

4. Pendapatan dari Kerjasama dengan Jasa Penyedia Komunikasi

Kalau boleh dibilang, pendapatan Gojek, Grab, Uber dari kerjasama ini cukup antimainstream. Dengan mengandalkan kekuatan di masing-masing pihak, mereka bisa mendapatkan hasil yang sama-sama menguntungkan.

Seperti yang kita tahu, driver ojek online pasti membutuhkan paket data untuk menerima orderan dan melakukan aktivitas internet lainnya. Dengan begitu, semakin banyak pengguna maka semakin banyak pula yang akan menggunakan paket internet. Tentu saja, kondisi ini sangat menguntungkan perusahaan telekomunikasi. 

Di satu sisi, pihak perusahaan seperti Gojek juga mendapatkan keuntungan. Misalnya dengan menggunakan diskon ‘paket internet untuk provider tertentu’, maka akan semakin banyak orang yang tertarik bergabung menjadi mitra usahanya.

Nah, demikianlah beberapa penjelasan mengenai keuntungan yang didapat oleh perusahaan ojek online di Indonesia. Baik itu Gojek (Indonesia), Grab (Malaysia), Uber (AS) dan transportasi online lainnya, mungkin akan mengadopsi metode-metode yang kami sebutkan.

Penghasilan yang diperoleh mereka mungkin belum bisa terlihat dalam waktu singkat, melainkan butuh proses untuk mencapai keuntungan yang maksimal.

Perhitungan dan simulasi tersebut memang belum pasti, bisa juga ada beberapa penjelasan yang masih salah atau kurang tepat dengan yang sebenarnya. Namun yang pasti, perhitungan tadi bisa memberikan gambaran kepada Anda bahwa penghasilan mereka bukan didapat melalui satu sumber saja.
Akan tetapi, berbagai hal yang masih bisa di EKSPLOR mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh penghasilan perusahaan. Baca juga : Sistem Gaji Gojek dan Cara Pembayarannya yang Wajib Anda Tahu!
Meski transportasi online cukup membuat kontroversi diawal kemunculannya, namun lama kelamaan masyarakat akan maklum juga. Kemudahan yang ditawarkan ojek online memang sangat bermanfaat, terlebih bagi mereka yang menggunakannya untuk keperluan bisnis.

Sekian, semoga bermanfaat!

Referensi:
  • williamkusumablog.wordpress.com
  • peluangdananalisisbisnis.com

0 Response to "Bagaimana Gojek, Grab & Uber Mendapatkan Keuntungan?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Feed)

Iklan Tengah Artikel 2 (Inline)

Iklan Bawah Artikel